Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Hebat, Tokoh Pendidikan Haji Dole Magenda Susun 12 Jilid Buku Muatan Lokal

Kamis, 16 September 2021 | 6:04 PM WIB Last Updated 2021-09-16T10:04:32Z

 


Dompu, koranlensapost.com - Usianya memang tidak muda lagi. Sekitar 73 tahun sudah, karena ia dilahirkan pada 18 April 1948. Tetapi semangatnya untuk mendidik anak bangsa tidak pernah pudar. 

H. Abdullah H. M. Saleh, S. Pd begitulah nama lengkapnya. Orang-orang lebih mengenalnya dengan nama sapaan Haji Dole Magenda, karena beliau tinggal di Lingkungan Magenda Kelurahan Potu Kecamatan Dompu Kabupaten Dompu NTB tepatnya di Jalan Jeruk Nomor 23.


Saat disambangi oleh media ini di kediamannya beberapa waktu lalu, sang tokoh pendidikan ini mengenakan kaos bertuliskan Ncuhi. Ncuhi dalam bahasa lokal adalah penamaan untuk penguasa wilayah di Dompu pada masa lampau. Jauh sebelum masa kerajaan dan kesultanan di daerah ini.

"Kaos ini pemberian anak saya yang di Jogja (Yogyakarta)," ucapnya.


Tidak lama kemudian, Aji Dole mengambil beberapa eksemplar buku yang ditaruhnya di kamar depan dari rumahnya itu. Ada 12 (dua belas) buku yang diambilnya. Sepintas kedua belas jilid buku itu sama. Semuanya berwarna hijau muda dan di pinggirnya dilapisi lakban berwarna hitam. Tetapi ternyata tidak ada satu pun yang isinya sama. 

"Dua belas buku ini berisi pelajaran muatan lokal untuk kelas satu SD sampai kelas tiga SMA sederajat," jelasnya.

Sebanyak 6 (enam) jilid buku di cover-nya bertuliskan CAHA TANA'O untuk kelas 1 sampai 6 SD/MI. Tiga jilid lagi bertuliskan ROJO RO KANDE untuk kelas 7 sampai 9 SMP sederajat. Sedangkan 3 (tiga) jilid lagi bertuliskan NGGAHI RASA NDAI untuk kelas 10 sampai kelas 12 SMA sederajat.


Di dalam 12 buku itu memuat isi yang berbeda. Tetapi semuanya menyangkut sejarah, budaya dan tradisi Dou Dompu secara turun temurun dari zaman ke zaman mulai masa Ncuhi, Kerajaan, Kesultanan hingga masa pemerintahan Swapraja, maupun Daerah Kabupaten.

Tekhnik dan cara meramu berbagai jenis obat-obatan tradisional ala Dompu  serta khasiatnya pun dituangkan dalam buku-buku itu. Demikian pula cara bercocok tanam maupun cara beternak masyarakat Dompu dari zaman ke zaman.


"Saya menyusun buku ini selama 2 tahun atas kesepakatan Majelis Adat Dana Dompu pada waktu itu," tuturnya.

Ia berharap buku-buku tersebut dapat dimanfaatkan sebagai buku pelajaran muatan lokal (Mulok) untuk melestarikan sejarah dan budaya daerah Bumi Nggahi Rawi Pahu.

"Semoga bapak Bupati Kader Jaelani bisa menerima buku-buku ini dan dicetak perbanyak untuk di sekolah-sekolah. In syaallah saya akan menemui pak Bupati," harapnya mengakhiri. (emo).


×
Berita Terbaru Update