Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Jumat, 17 Januari 2020 | 6:33 AM WIB Last Updated 2020-01-16T22:36:27Z
Miskinnya Bacaan Tentang Dompu
 oleh : Andi Fardian Yakub*



Salah satu buku karya Andi Fardian Yakub
"DOMPU Nggahi Rawi Pahu yang
Dirindukan"

Kalau Anda berkunjung ke Perpustakan Nasional Republik Indonesia, sebagai perpustakaan terbesar di Indonesia, coba Anda ketik kata kunci ‘Dompu’. Saya pastikan Anda akan sulit menemukan bahan bacaan tentang Dompu atau yang berhubungan dengan Dompu. Beda dengan daerah lain. Sekali ketik kata kunci, langsung keluar bahan bacaan yang berkaitan dengan daerah tersebut lebih dari satu, dua, bahkan banyak. Kalau tentang Dompu, kita tidak akan menemukan apa-apa. Atau di Jogja, deh. Jogja itu punya perpustakaan besar. Sampai tahun 2017, kalau Anda mencari referensi atau tulisan tentang Dompu, maka jangan pernah berharap Anda akan menemukannya satupun. Tidak ada satupun. Di toko buku pun juga begitu. Kalau Bima, tetangga kita itu, saya pernah melihat setidaknya ada satu buku—di Toko Buku Social Agency yang berlokasi sebelum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kalau dari arah timur. 
Buku "Lembo Ade" karya Andi Fardian Yakub

Saya kira itu setidaknya lebih baik daripada Dompu yang tidak punya sama sekali. Sebagai orang Dompu, gusar juga saya. Bagaimana Dompu bisa eksis tanpa ada sumber bacaan yang memadai?

Atau Anda tidak perlu jauh-jauh ke Perpustakaan Nasional atau Perpustakaan Yogyakarta. Saran saya cobalah berkunjung ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Dompu. Coba Anda tanyakan ke pustakawan yang ada di sana; berapa jumlah buku atau sumber bacaan lain tentang Dompu yang ada di sana? Saya yakin jawabannya tidak lebih dari 10 buku. Eh terlalu banyak itu. Saya tidak yakin lebih dari 5 buku. Buku yang sudah ber-ISBN, maksudnya. Mencari bacaan atau buku yang berhubungan dengan Dompu bak mencari jarum dalam sekam. Itupun ungkapan tersebut kurang tepat menggambarkan miskinnya bacaan tentang Dompu. Kalau orang mencari jarum dalam sekam karena orang tersebut yakin dan optimis ia akan menemukan jarumnya, meskipun itu misi tersulit. Sedangkan kalau kita mencari bacaan tentang Dompu, ya, kita tidak akan menemukannya. Mengapa tidak ada? Ya, karena tidak ada yang menulisnya. Mengapa tidak ada yang menulis? Saya kira Anda tahu jawabannya. Seseorang akan menulis suatu obyek karena ada hal yang menarik dari obyek itu. Saya tidak mengatakan bahwa pada Dompu tidak ada hal yang menarik, loh. Tapi silakan Anda menilai sendiri. 
Buku "Kolom-Kolom Untuk
Dompuku" karya Andi Fardian
Yakub

Kalau mau jujur, Dompu kita ini miskin di beberapa aspek. Salah satunya adalah bacaan tentang daerah kita. Ada yang mencoba mengingatkan saya agar jangan terlalu vulgar memberi kritik. Nanti ada yang tersinggung. ”Mas Andi, jangan terlalu vulgar kalau mengkritik. Nanti ada yang tersinggung.”. Saya jawab “oh, bagus, dong. Saya berharap dengan orang tersinggung, ia mau berbuat nyata.” Kita ini warga Nggahi Rawi Pahu. Seharusnya kita mampu mewujudkan nilai sakral dari semboyan tersebut. Itu semua untuk kemajuan daerah yang kita cintai ini. Jangan sampai kalimat “untuk kemajuan daerah Dompu” hanya sekadar menjadi lip service atau formalitas seperti kebanyakan pidato yang dibacakan oleh orang-orang di atas sana. It’s not interesting listening to their talks because it’s nothing to do with those rhetoric. 

Mengapa Dompu mengalami krisis sumber bacaan? Saya setidaknya mengidentifikasi beberapa penyebab. Pertama, kurangnya rasa menjadi bagian dari daerah dan nihilnya kebanggaan menjadi bagian dari Dompu. Untuk menyederhanakan kalimat itu, saya meminjam istilah seorang Ph.D bahwa generasi Dompu mengalami krisis identitas. Mengapa bisa demikian? Saya mau bertanya; pernahkah Anda sejak SD sampai SMA diberitahu sejarah dan asal-usul Dompu yang komprehensif? Yang lengkap. Saya yakin jawaban sebagian besar Anda adalah tidak. 
Buku ke-16 Andi Fardian Yakub yang akan segera terbit "Untuk Nggahi Rawi Pahu-ku"

Coba juga Anda lakukan survei sekarang. Berapa banyak orang Dompu dari yang kecil sampai yang tua, dari pejabat, rakyat jelata seperti saya, termasuk yang keturunan bangsawan, yang mengetahui sejarah dan asal usul Dompu dengan jelas dan terperinci? Anda akan mendapati jumlah yang sangat sedikit. Sebagian besarnya tidak tahu. Sekali lagi TIDAK TAHU. Itu pun jumlah sedikit yang tahu itu belum tentu benar-benar memahami sejarah daerahnya. Lantas kalau Anda bertanya kepada saya perihal sejarah Dompu, maka saya dengan cepat akan menjawab tidak tahu. Mengapa tidak tahu? Karena tidak pernah diberitahu. Dulu pernah ada pelajaran Muatan Lokal, tapi sebatas pada mempelajari aksara Mbojo. Itu pun gurunya juga tidak bisa. Hampir setiap jam pelajaran, kami hanya disuruh mencatat isi buku sampai selesai jam pelajaran. Sungguh capek. Mata pelajaran itu sudah lama hilang ditelan zaman. Saya tidak tahu mengapa Pemkab Dompu menghilangkan mata pelajaran itu. 

Kemudian muncul lagi pertanyaan; mengapa, kok, tidak diajarkan sejarah Dompu? Saya pun tidak tahu-menahu. Tapi kalau saya boleh berasumsi bahwa hal tersebut disebabkan karena para pengambil kebijakan juga tidak mengetahui sejarah Dompu dengan jelas.

Krisis identitas ini tidak akan kita temui di sebagian besar daerah. Misalnya, Pulau Jawa itu besar. Ada banyak daerah di sana. Hebatnya, setiap daerah punya data yang jelas tentang sejarah dan asal usulnya. Siswa-siswa di SD dengan bangga karena mengetahui sejarah berikut dengan pahlawan beserta cerita heroik dari daerahnya. Tidak usahlah saya sebut Jogja. Nanti saya dicap Jogja-sentris. Tapi FYI, di Jogja ada mata pelajaran kebudayaan Jogja (Jawa). Within there, anak-anak bisa belajar aksara dan sejarah daerahnya. 
Buku-buku karya Andi
Fardian Yakub

Kembali ke miskinnya sumber bacaan tentang Dompu. Bahwa, krisis identitas tersebut, pantauan saya, berbanding lurus dengan ketidakberanian orang-orang Dompu menulis sejarah tentang Dompu. Apa yang mau ditulis, wong, kita tidak tahu mana sejarah yang benar. Kalau pun ada satu atau dua orang, saya tidak yakin mereka akan benar-benar obyektif menulis itu. 

 Krisis identitas ini membuat sebagian orang juga menutup akalnya untuk bersikap obyektif dalam mempelajari dan mengulik sejarah dengan baik. Krisis identitas ini membuat sebagian orang juga saling lempar tanggung jawab terkait siapa yang lebih berhak menelusurinya. Maka tidak kunjung ditemukan sejarah itu.

Akhir-akhir ini saya melihat sudah mulai muncul beberapa orang yang ingin menelusuri sejarah Dompu. Saya sangat menghargai upaya itu. Mereka punya kepedulian. Namun demikian, saya tidak setuju dengan sikap subyektif dari beberapa orang dalam kelompok itu yang mengabaikan prosedur akademis untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tidak heran jika orang akan menilai bahwa niat baik itu hanyalah wujud politik identitas yang tidak benar-benar lurus. Saran saya: jangan mengklaim dan memutuskan apapun—perihal kejelasan sejarah Dompu—tanpa terlebih dahulu melewati prosedur akademis. Mungkin ada dari Anda yang menilai saya sok pintar dengan menyebut prosedur akademis. Tidak masalah. Tapi yang harus Anda tahu bahwa dalam menentukan kejelasan suku, bahasa, dan budaya itu butuh proses panjang dan melelahkan. Tidak cukup dengan menulis satu buku. Tidak cukup hanya dari satu buku. Mari kita jujur bahwa kita ini tidak benar-benar memiliki apa yang disebut sebagai identitas daerah. 

Penyebab yang kedua adalah menjadi penulis (buku) di Dompu bukanlah hal yang mudah. Ada banyak orang yang memiliki potensi tersebut, tapi atmosfirnya yang tidak mendukung. Atmosfir tidak senang melihat saudara sedaerah yang berkembang menjadi obstacle atau hambatan serius. Seorang penulis asal Dompu yang saya kenal pernah mengeluhkan sikap sebagian masyarakat terkait aktivitas yang dilakoninya. “Na ngupa ku ncarana dibabu kaina (akan selalu dicarikan cara untuk menjatuhkan (mencari kekurangan dari karya kita)”, katanya. Setiap mau menulis, ada saja sentimen negatif yang dihadapinya. Itu kata teman penulis itu, sehingga dia kadang merasa minder. Lantas bagaimana saya bersikap? Saya sama sekali tidak peduli dengan sentimen negatif itu. I do not fucking care about that. Sentimen negatif inilah yang membuat sebagian orang Dompu yang memiliki potensi menulis tidak bergairah untuk menulis. Makin miskinlah sumber bacaan tentang Dompu. 

Ketiga, sangat minimnya dukungan pemerintah. Sebenarnya saya tidak bergairah bicara tentang ini. Ini persoalan klasik. Sejauh ini, saya tidak pernah mendengar ada program Pemkab Dompu untuk mendorong generasi Dompu menjadi penulis—sehingga bisa membanggakan daerah. Tidak ada. Tapi tolong kabari saya kalau memang ada. Di daerah lain, pemerintah yang justru ‘menjemput bola’ melihat bakat anak-anak yang ingin menjadi penulis. Mengapa di Dompu tidak ada seperti itu? Saya tidak tahu. Tapi asumsi saya karena membina calon penulis tidak mendatangkan keuntungan. Kalau asumsi saya salah, tolong diluruskan. Saya berharap ini menjadi perhatian bagi pemerintah. 

Pendek kata, kalau bicara penyebab Dompu mengalami krisis sumber bacaan, tidak akan habis tulisan ini. Untuk mengeluarkan Dompu dari situasi miskin sumber bacaan tentangnya, kami keluarga Yakub menulis beberapa buku yang sudah ber-ISBN. Otomatis kalau sudah ber-ISBN, buku-buku ini ada di Perpustakaan Nasional. Di Perpustakaan Yogyakarta juga sudah ada. Insya Allah, akan di ada di toko buku juga. Minimal ada lah. Daripada tidak ada. Apa yang kami lakukan adalah bagian dari kecintaan kami kepada daerah, meskipun kami jauh. Jauh sekali. O iya, ada harapan khusus dari kami. Kami ingin sekali ada keturunan kerajaan Dompu yang mau berbagi cerita kepada tentang sejarah Dompu. Asumsi kami bahwa keturunan kerajaan pasti tahu sejarah yang lebih detail. Tolong ceritakan kepada kami sejarah yang detail dan obyektif, agar kami ini tambah bangga menjadi orang Dompu. (* Andi Fardian Yakub adalah penulis buku asal Desa Ranggo Kec. Pajo Kab. Dompu dan kini berdomisili di Yogyakarta. Ia adalah mantan Ketua Dewan Anak Kab. Dompu).
×
Berita Terbaru Update