Mengenang Hama Bojo, Pelari Legendaris yang Bersahaja

Kategori Berita

.

Mengenang Hama Bojo, Pelari Legendaris yang Bersahaja

Koran lensa pos
Minggu, 15 September 2019
Almarhum Hama Bojo beserta istri di masa hidupnya

Dompu, Lensa Pos NTB -  Hama Bojo, nama yang tidak begitu asing bagi masyarakat Dompu, meskipun hanya sekadar namanya dan belum pernah bertemu langsung dengan sang tokoh legendaris ini. 

Siapakah dia sebenarnya ? Dan catatan sejarah apakah yang telah diukirnya bagi Bumi Nggahi Rawi Pahu ini ?
Hama Bojo atau Hima Bojo adalah panggilan akrab seorang atlet pelari marathon asal Kabupaten Dompu. Nama aslinya Ahmad Said, dilahirkan di Desa Ranggo tahun 1946 dan wafat tanggal 9 April 2000 di Desa Dorebara Kecamatan Dompu.

Hima Bojo di masa hidupnya telah menorehkan sejumlah prestasi membanggakan pada era 80-90-an di cabang olah raga lari marathon. 
Larinya kencang laksana kijang seolah tidak merasa kelelahan. Sampai-sampai dikabarkan biji matanya diganti dengan biji mata kijang. Wallahu A'lam.

Menurut penuturan putrinya, Nurhayati Hasmin, ada sejumlah prestasi yang pernah ditorehkan sang tokoh legendaris yang nyaris dilupakan oleh sejarah ini. Hima Bojo pernah mendapat piagam penghargaan hari ulang tahun Kodya Mataram keluar sebagai juara 1 lari marathon 42 km (1975); mendapat penghargaan dalam rangka HUT Kodya Tingkat II Malang tahun juara 1 marathon (1976) ; juara1 PON ke IX  di Jakarta (1977); mengikuti ASIAN GAMES IX kuala Lumpur Malaysia mendapat medali perak (1977); mendapat penghargaan lomba lari marathon tradisional di Malang Jatim dan keluar sebagai juara satu (1980); mendapat penghargaan PORDES kecamatan  Dompu juara satu (1982); mendapat penghargaan dari PASI propinsi NTB (1980); penghargaan lomba lari massal 10 km (1983); penghargaan dari PASI Cabang Dompu HUT pengesahan TRI AU ke 38 juara 3 (1984); penghargaan lomba lari marathon di wonogiri (1986).
 "Masih banyak catatan prestasi yang pernah bapak raih tidak bisa saya sebutkan semuanya. pokoknya beliau mengikuti lomba terakhir kalinya pada tahun 1993 atau 7 tahun sebelum beliau menutup usianya," ungkap Nurhayati.

Masih penuturan putrinya Nurhayati, pada tahun 1979, Hima Bojo diangkat menjadi PNS  ditempatkan di SMPN 2 Dompu (sekarang SMPN 1 Woja) dan terakhir pensiun di SMPN 6 Dompu (sekarang SMPN 3 Dompu).

Nurhayati juga mengungkapkan riwayat asal mula sapaan Hama Bojo atau Hima Bojo terhadap nama ayahandanya itu. Ahmad dilahirkan dan dibesarkan di kebun singkong bersama kedua orang tuanya. Lokasi tersebut saat ini masuk dalam wilayah administratif Desa Lune. Jaraknya sekitar 10 km dari Desa Ranggo.
Suatu ketika sang ibu memasak (merebus) singkong. Ternyata tidak ada garam sama sekali. 

 "Akhirnya beliau berlari  mengambil garam  ke Ranggo. Terus beliau membawa pulang garamnya sebelum singkong itu matang. Itulah orang memanggilnya Hama Bojo," jelas Nurhayati.

Hima Bojo memiliki seorang istri bernama Hasanah dan 2 orang anak yaitu Nurhayati dan Junaidin. 
"Beliau adalah pahlawan olah raga yang telah banyak menorehkan segudang prestasi. Saya pribadi mengimbau kepada pemerintah Kabupaten Dompu agar kiranya bisa mengenang jasa beliau dengan berupa apa pun bentuknya supaya jasa dan namanya tidak hilang seperti ditelan bumi dengan harapan akan membawa dampak positif kepada generasi pencinta olah raga," pungkas Nurhayati. (Berita ini pernah dimuat di Koran Metro Dompu edisi 17 Januari 2018).