Sultan Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin merupakan salah satu tokoh paling penting dalam sejarah modern Dompu, Nusa Tenggara Barat. Beliau dikenal sebagai Sultan Dompu terakhir sekaligus Bupati Dompu pertama yang memimpin masa transisi dari pemerintahan kesultanan menuju pemerintahan daerah modern dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dalam sejarah Dompu, beliau dikenang sebagai figur yang berhasil menjaga kesinambungan antara warisan Kesultanan Dompu, perjuangan kebangsaan, dan pembentukan pemerintahan daerah modern pasca kemerdekaan Indonesia.
๐ ๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ฒ๐ฐ๐ถ๐น ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ ๐๐ฒ๐น๐๐ฎ๐ฟ๐ด๐ฎ
Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin lahir di Kampung Potu, Dompu pada tanggal 12 September 1918.
Beliau merupakan putra dari: • Abdul Wahab Siradjuddin • Siti Misbah
Beliau juga merupakan cucu dari Sultan Muhammad Sirajuddin, salah satu Sultan Dompu yang dikenal memiliki sikap perlawanan terhadap kolonial Belanda.
Latar belakang keluarga Kesultanan Dompu tersebut membentuk posisinya sebagai pewaris tradisi kepemimpinan lokal sekaligus generasi yang menghadapi perubahan besar menuju era Indonesia merdeka.
Sejak muda, beliau dikenal berada dalam lingkungan pendidikan, adat, dan pemerintahan yang membentuk karakter kepemimpinannya sebagai tokoh adat sekaligus tokoh pemerintahan modern.
๐ฃ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฑ๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป
Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin sempat menempuh pendidikan di: Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA)
OSVIA merupakan sekolah pendidikan calon pegawai pemerintahan pribumi pada masa Hindia Belanda yang banyak melahirkan birokrat dan elite pemerintahan daerah di Nusantara.
Namun pendidikan tersebut tidak diselesaikannya karena beliau dipanggil kembali ke Dompu untuk menjalankan tanggung jawab kepemimpinan di lingkungan kesultanan.
Latar pendidikan tersebut memberikan pemahaman administrasi pemerintahan modern yang kemudian sangat berpengaruh dalam proses transisi pemerintahan Dompu menuju sistem pemerintahan republik.
๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ท๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐น๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฑ๐ฎ๐๐น๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐๐๐น๐๐ฎ๐ป๐ฎ๐ป ๐๐ผ๐บ๐ฝ๐
Dalam sejarah Kesultanan Dompu, Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin dikenal sebagai pelopor dan penggerak kembalinya kedaulatan Kesultanan Dompu setelah sebelumnya sempat berada dalam pengaruh dan penggabungan administrasi bersama Kesultanan Bima pada masa kolonial.
Berbagai catatan sejarah dan arsip Kesultanan Dompu menjelaskan perjuangan panjang beliau sejak tahun 1934 hingga 1947 untuk mengembalikan posisi Kesultanan Dompu sebagai kesultanan yang berdiri sendiri dan memiliki otoritas pemerintahan lokal.
Perjuangan tersebut menjadikan beliau sebagai salah satu figur penting dalam menjaga identitas politik dan budaya masyarakat Dompu pada masa peralihan kolonial menuju kemerdekaan Indonesia.
๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ท๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ ๐ฒ๐ป๐ฑ๐๐ธ๐๐ป๐ด ๐ก๐๐ฅ๐
Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin juga dikenal sebagai tokoh yang aktif mendukung terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Setelah situasi keamanan membaik pasca Perundingan Roem–Royen, beliau bersama Sultan Bima, Sultan Muhammad Salahuddin, aktif membangun konsolidasi politik kesultanan-kesultanan di Pulau Sumbawa untuk mendukung NKRI.
Pada 11 April 1950, Kesultanan Dompu menjadi tuan rumah pertemuan penting antara perwakilan Kesultanan Dompu, Kesultanan Bima, dan Kesultanan Sumbawa.
Pertemuan tersebut bertujuan menyatukan sikap politik untuk mendukung bergabungnya wilayah Pulau Sumbawa ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kesultanan Dompu dipilih sebagai lokasi pertemuan karena Sultan Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin dianggap mampu menjaga keamanan wilayah dari gangguan kelompok pro-NICA pada masa tersebut.
Hasil pertemuan itu menghasilkan pernyataan dukungan bersama terhadap NKRI yang kemudian disampaikan langsung oleh: • Sultan Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin, • Sultan Muhammad Salahuddin dari Bima, • serta perwakilan Kesultanan Sumbawa.
Pada tanggal 13 Mei 1950, beliau bersama rombongan kesultanan menghadap Presiden Soekarno di Jakarta dan bertemu pejabat pemerintah pusat di Yogyakarta.
Perjuangan tersebut menjadi bagian penting dalam proses kembalinya bentuk negara Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 18 Agustus 1950.
Dalam sejarah Dompu dan Pulau Sumbawa, Sultan Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin dikenang sebagai salah satu tokoh daerah yang memiliki kontribusi nyata dalam mendukung dan mempertahankan NKRI.
๐ฆ๐๐น๐๐ฎ๐ป ๐๐ผ๐บ๐ฝ๐ ๐ง๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ธ๐ต๐ถ๐ฟ
Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin tercatat sebagai Sultan Dompu terakhir dalam sejarah Kesultanan Dompu.
Beliau memimpin pada masa transisi besar ketika sistem pemerintahan kerajaan tradisional mulai berubah menjadi pemerintahan daerah modern dalam struktur republik Indonesia.
Dalam masa kepemimpinannya, beliau berupaya menjaga hubungan antara adat, masyarakat, dan pemerintahan nasional agar proses transisi berjalan damai dan stabil.
Pendekatan tersebut membuat masyarakat Dompu relatif mampu beradaptasi dengan perubahan sistem pemerintahan tanpa gejolak sosial besar.
๐๐๐ฝ๐ฎ๐๐ถ ๐๐ผ๐บ๐ฝ๐ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐บ๐ฎ
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958, status Kesultanan Dompu berubah menjadi daerah swapraja.
Selanjutnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 1187/14/35 tanggal 2 Oktober 1958, Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin diangkat menjadi Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Dompu atau Bupati Dompu pertama, terhitung mulai tanggal 1 Desember 1958.
Sebagai Bupati pertama, beliau menghadapi tantangan besar dalam: • membangun struktur pemerintahan kabupaten, • menata birokrasi daerah, • membangun administrasi pemerintahan, • meningkatkan pendidikan, • memperkuat kehidupan keagamaan, • serta membangun ekonomi masyarakat Dompu pasca perang dan masa kolonial.
๐ฃ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ด๐๐ป๐ฎ๐ป ๐๐ผ๐บ๐ฝ๐
Pada masa kepemimpinannya, pembangunan bidang pendidikan dan agama menjadi perhatian utama.
Beliau mendorong peningkatan: • sekolah agama, • sekolah umum, • masjid dan langgar (Sigi ro Langga), • serta kegiatan pengajian dan pendidikan masyarakat.
Selain itu, pembangunan ekonomi terutama sektor pertanian mulai kembali dibenahi setelah mengalami kemunduran akibat Perang Dunia II.
Di bawah kepemimpinannya, Dompu kembali berkembang sebagai salah satu daerah penghasil beras penting di wilayah Pulau Sumbawa.
Beliau dikenal sebagai pemimpin yang memiliki perhatian besar terhadap pembangunan masyarakat dan penguatan kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Dompu.
๐๐ธ๐ต๐ถ๐ฟ ๐๐ฎ๐๐ฎ๐
Di tengah perjuangannya membangun masyarakat dan pemerintahan Dompu, Sultan Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin wafat pada tanggal 12 September 1964 dalam usia yang relatif muda.
Wafatnya beliau meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Dompu karena pada masa tersebut beliau masih menjadi figur sentral dalam pemerintahan dan kehidupan adat masyarakat.
Dalam berbagai catatan masyarakat Dompu, kepergian beliau dikenang sebagai kehilangan besar terhadap seorang pemimpin yang dianggap memiliki dedikasi tinggi bagi rakyat dan daerahnya.
๐ช๐ฎ๐ฟ๐ถ๐๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฟ๐๐ต
Dalam sejarah Dompu modern, Sultan Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin dikenang sebagai tokoh transisional yang berhasil menjembatani: • pemerintahan kesultanan, • pemerintahan republik, • adat dan modernitas, • serta kepentingan lokal dan nasional.
Beliau dipandang sebagai figur yang berjasa menjaga stabilitas politik dan sosial Dompu pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Di tengah masyarakat Dompu, nama beliau dan permaisurinya, Siti Khadijah, masih sering dikenang melalui tradisi haul dan doa bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa dan pengabdian mereka kepada masyarakat Dompu.
Bagi masyarakat Dompu dan Nusa Tenggara Barat, Sultan Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin tetap menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan daerah, pemerintahan, dan identitas budaya masyarakat Dompu.
Penulis: M. Tajul Arifin. S. Sos.(dae evin)

Komentar