Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

"PATAKULA" (Bagian 03)

Selasa, 02 Juni 2020 | 4:48 PM WIB Last Updated 2020-06-02T08:48:48Z
Oleh: Adiansyah Dompu


--- 

Pagi itu PATAKULA sedang memberi makan hewan piaraannya di kandang dengan telaten dan gembira. Kambing dan Sapi yang ada dikandang terlihat sangat gemuk, pertanda mereka sangat diperhatikan oleh sang Empunya. Dari keadaan hewan piaraan tersebut tampak sekali bahwa PATAKULA adalah seorang yang perhatian pada sesama mahluk. Sementara di halaman rumah terlihat beberapa ekor ayam sedang mencari makan. 

Saat itu KOMBA RAWE bersama Ibunya sedang berada di dapur sedang sibuk memasak makanan untuk keluarga dan pemuda yang tadi malam masih tergolek lemah dan bingung di Kamar. 

Tiba-tiba terdengar suara pintu rumah berderik. PATAKULA menoleh ke arah pintu dan tampak Pemuda asing yang kapalnya terdampar sedang melihat-lihat sekeliling halaman rumah yang luas dan banyak pepohonan rindang yang menyejukkan mata. Pemuda itu sudah mengenakan pakaian ringkas warna putih yang disediakan oleh Patakula di sebelah pembaringannya. 

"Nak... Syukurlah kamu sudah bangun." 
PATAKULA menuju ke arah Pemuda itu dan menyapanya...

"Ohh Bapak... Maaf saya tidak tahu kalau Bapak ada di halaman belakang." 
Si Pemuda jadi kaget mendengar sapaan PATAKULA di belakangnya. 

Mereka saling pandang sesaat dengan pandangan mata yang saling menghormati. Bagi Pemuda itu, sosok di depannya adalah seorang tua yang sangat berwibawa dan membuatnya menundukkan pandangan. Sedangkan di mata PATAKULA, wajah sang pemuda itu tampak lelah tetapi bersih seolah memancarkan cahaya kesejukan yang berkharisma. 

"Iya gak apa-apa Nak. Ayo kita ke dalam dulu. Dari kemarin pagi perutmu belum terisi apapun karena Anak tidur sangat nyenyak. Kita cicipi masakan istri dan anak saya... Semoga tenagamu segera pulih." 
Segera PATAKULA mengajak Sang Pemuda masuk rumah untuk mencicipi masakan yang sudah tersaji di meja makan kayu sederhana yang tampak bersih. Mangkok dan piring nasi dari tanah tembikar tertata rapih di atasnya.  

"Iya Pak... Baik. Terimakasih dan maaf sudah merepotkan." 
Jawab pemuda itu, sementara PATAKULA memegang pundak sang Pemuda dan menuju meja makan. 

"KOMBA RAWE... INA... Ayo kita makan bersama di sini..." 
PATAKULA memanggil putri dan istrinya untuk makan bersama... 

"Iya Ama...."
Terdengar suara lembut dari dapur. 

Muncullah sang dara dan ibunya. Sejenak terjadi adu pandang antara KOMBA RAWE dan Pemuda itu yang kemudian disusul mereka saling membuang pandangan dengan wajah bersemu merah. 

Mereka berempat kemudian sudah sibuk melahap makanan di depannya. Sang Pemuda yang entah sudah berapa hari perutnya tidak terisi makanan terlihat begitu bersemangat menyantap hidangan itu dengan tangannya, sementara INA beberapa kali menambahkan lauk pauk ke dalam piring makanan sang Pemuda yang langsung dilahap dengan cepat olehnya. Pemuda itu tampak sangat suka Bandeng Bakar dan sayuran asing di depan matanya yang terlihat bening dengan dedaunan hijau dan rasanya manis.  KOMBA RAWE di ujung meja tersenyum manis. 
 
"Makan yang banyak Nak. Biar kuat. Ini sayuran namanya Uta Mbeca Maci dengan daun Parongge. Mungkin Nak belum pernah lihat sayuran ini di tempat anak berasal. Daun Parongge ini punya khasiat ajaib. Bisa membuatmu cepat sembuh kalau lagi sakit dan memberi kekuatan di saat lemah. Jika dimakan dengan Ikan Bandeng bakar dan sambal pedas ini. Kombinasi makanan-makanan ini menurut saya adalah yang terlezat." 
Sebagai tuan rumah yang ramah, PATAKULA menjelaskan panjang lebar tentang masakan yang ada di depan mereka. PATAKULA juga sudah mulai senang dengan pemuda ini. Dia sangat terlihat apa adanya. 

"Iya Pak... Sangat lezat sekali. Maafin saya memakannya banyak sekali. Saya sungguh tidak sopan..." 
Pemuda itu membalas sambil mulutnya tetap melahap daging Bandeng bakar itu. 

"Iya gak apa-apa Nak. Kami sangat senang sekali kalau Anak suka dan kalau bisa dihabisi. Itu akan menjadi sebuah kehormatan untuk kami."
INA berkata sambil tersenyum... Disebelahnya wajah KOMBA RAWE masih berbinar-binar. 

"Terimakasih Bu, atas masakannya. Enak sekali." 
Ucap Pemuda itu. 

"Ini masakan Putri saya, Nak."
Jawab INA. 

Dan tiba-tiba KOMBA RAWE disebelahnya terbatuk dengan wajah makin memerah seperti udang rebus yang kemudian bangun dan berlari kecil menuju kamarnya. Rupanya dia Malu. Sementara Pemuda itu tersenyum simpul penuh arti sambil ekor matanya memandang punggung sang dara yang berlalu. 

(Siapakah Pemuda ini sebenarnya? Nantikan di serial berikutnya)

____


×
Berita Terbaru Update